Monday, February 16, 2009

Perkedel

"Buatin perkedel dong.." Suamiku memandang penuh harap.
Wadduh!! permintaan yang sulit kutolak tapi rada malas kupenuhi.
Aku tahu, perkedel memang salah satu makanan favoritnya, disamping mpek-mpek, baso tahu dan jus alpukat. Tapi kalo disuruh buat yang ini kok malas amat ya...?? Padahal gak susah-susah amat, meski agak ribet karena dua kali masak dan kalau sudah selesai, minyak dipenggorengan jadi berbuih telur.
Kalau mau jujur, ini sebenarnya lebih bersifat 'keengganan karena trauma psikologis' (istilah karanganku).

Dulu...zaman masih remaja aku tergolong gadis yang tidak betah di dapur, agak alergi dengan kerja-kerja di rumah, lebih betah baca buku berjam-jam, apalagi majalah dan buku fiksi. Lebih suka ngotak-ngatik isi setrika daripada menyetrika, lebih suka bantu petugas perpustakaan daripada nyapu, lebih betah baca-baca resep masakan daripada masaknya...hehe. Kesimpulan males-les, gitu. Sampai kemudian aku dipertemukan dengan temen-temen pengajian yang 180 derajat berbeda dunia. Rapi-rapi, pandai masak, pandai jahit meski ada juga yang jago gitar klasik, matematik dan nyetir bahkan ada juga yang kuliah di teknik sipil. Mindaku dipaksa terbuka bahwa untuk pinter tidak harus tidak pandai masak dan berantakan, untuk jago isi seminar kewanitaan tidak harus bego dengan urusan sapu-menyapu, dan untuk pinter buat bangunan bukan berarti tidak perlu tahu resep buat puding yang enak.
Sejak hari itu, kumulai babak baru dalam hidupku..

Aku mulai mencoba akrab dengan dapur dan peralatannya.
Mulai mau praktek resep masakan, meski ketika praktek, buku resepnya tak boleh jauh-jauh.
Aku mulai berfikir, dengan bertambahnya umur, meski waktu itu masih kuliah S1, semakin dekat juga dengan masa berumahtangga. Kalau tidak berubah juga, wah..bakalan gagal diterima jadi mantu seseorang...^__^
Sampai hari ujian kemahiran itu akhirnya datang.
Waktu itu Ramadhan. Dan karena bulan puasa, maka buka puasa bersama pun menjadi tren saat itu, termasuk pengajian kami. Tujuannya, untuk variasi dan menambah keakraban.
Siang itu semua orang anggota pengajian sudah menyatakan jenis makanan apa yang akan dibawa. Nasi, lalapan, kerupuk, buah, agar-agar, sudah ada yang mesen. Wah!! padahal itu makanan paling gampang yang bisa dibawa. Aku bawa apa ya?? Celingukan kanan kiri, mereka malah memandangku, nunggu jawaban.
"perkedel aja deh".. itu yang terfikir. Sebab untuk ayam goreng, rada kemahalan untuk kantongku yang masih nadah tangan uang jajan dari orangtua. Yang berkuah-kuah, selain ribet bawanya, karena rumahku cukup jauh dari lokasi acara, aku juga belum pede membuatnya. Dan ini sebenarnya alasan utamanya! Mana puasa lagi, gak bisa sering-sering nyicip..

Hari-H, sejak pagi aku sudah bersiap-siap, nyari kentang, bawang, seledri, telur, minyak goreng. Jarang-jarang ke pasar pun kugagahkan juga pergi. Pulangnya masih mampir ke warung nyari kornet karena di pasar lupa belum dibeli.
Tanpa meminta bantuan siapapun, mega proyekku petang itu kugarap sendirian. Yang datang sekitar 20 orang, jadi kalau setiap orang makan 2 maka minimal harus kubawa 40. Untuk orang rumah harus dibuat juga, yah sekitar 60 potong jadi lah. Otakku mulai mengkalkulasi dan mereka-reka ukuran paling tepat supaya dapat 60 potong perkedel dengan jumlah kentang yang ada. Banyak tuh! Seumur-umur belum pernah kubuat perkedel sebanyak itu.

Singkat cerita, perkedelku yang mungil dan cantik menurutku, jadi juga. Untuk kawan-kawan sudah digoreng dan dikemas. Jam sudah menunjukkan hampir waktu ashar, padahal acara mulai ba'da ashar. Wah mana belum mandi! Sisa perkedel yang belum kugoreng, jatah untuk keluargaku urung kuselesaikan. Ya sudah aku simpan di kulkas saja. Toh tinggal celup telur dan digoreng saja, biar ibu atau saudaraku yang menuntaskannya. Lagian waktu magrib masih lama.
Dengan terburu-buru aku mandi dan berkemas.. Bolak-balik ke kamar karena selalu ada yang ketinggalan. Biasa penyakit tergesa-gesa memang selalu menguras tenaga lebih besar dari yang seharusnya.
Ketika sudah hampir siap dan mau pamit, tiba-tiba ibu menanyaiku dengan nada agak tinggi: "Orang lain aja yang diurus, untuk keluarga gak inget?"
Wadduh..darahku berdesir, mata memanas hampir banjir, tidak terima dituduh demikian. Rasa cape yang tidak kurasa sejak pagi, tiba-tiba menggelayut menyesak memenuhi dada, bawaannya emosi. Alhamdulillah otak warasku masih jalan, bagaimanapun aku dalam keadaan puasa dan beliau adalah ibuku, sungguh tidak pantas berbicara kasar. Bisa-bisa pahala baikku yang kutabung sejak subuh hancur berantakan.
Tanpa banyak bicara, kubuka pintu kulkas lebar-lebar, kutunjukkan perkedel-perkedel yang belum sempat digoreng. "ini Mah, sudah saya buat, cukup untuk sahur juga, cuma gak sempat goreng karena sudah terlambat.." (Ya Allah semoga Engkau mengampuni dosaku..).
Mungkin tidak ada maksud Ibu untuk menuduhku begitu. Aku juga mencoba berbaiksangka bahwa sikapku yang cenderung egois sebelum ini mampu menguatkan sangkaan bahwa aku cuma ingat urusanku sendiri tanpa ingat hal-hal keluarga. Belum cukup upayaku menunjukkan bahwa aku sudah berubah, walau mungkin belum total berubah menjadi baik. Untuk mengubah kepribadian memang tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi mengubah persepsi yang kadung tertanam dibenak orang-orang sekeliling kita. Masih harus kerja keras, bersungguh-sungguh.
Mendung serasa menggelantung dihatiku sore itu..juga setiap kali diingatkan dengan perkedel..

No comments:

Post a Comment